MINAHASA, MANIMPANG.com — Minggu pagi itu, langit Tondano tampak cerah. Lapangan Sam Ratulangi perlahan dipenuhi masyarakat, pelajar, hingga jajaran pemerintah Kabupaten Minahasa.
Wajah-wajah penuh harap menyatu dalam satu semangat: merayakan kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-80.
Saat derap langkah Pasukan Pengibar Bendera (Paskibraka) terdengar, suasana seakan terhenti. Putra-putri terbaik Minahasa itu melangkah mantap, membawa Sang Saka Merah Putih menuju tiang bendera.

Di hadapan ribuan pasang mata, Bupati Minahasa Robby Dondokambey SSi MAP (RD) berdiri sebagai inspektur upacara, memberi penghormatan dengan penuh wibawa.
Upacara dimulai dengan lantunan Teks Pancasila yang diucapkan serempak, lalu dilanjutkan dengan pembacaan Naskah Pembukaan UUD 1945 oleh Kasubag Komunikasi Pimpinan, Anjastyo Wurangian SIP, MAP.

Saat Ketua DPRD Minahasa, Drs. Robby Longkutoy, membacakan Teks Proklamasi, suasana mendadak hening. Hening cipta yang dipimpin Bupati membuat banyak orang terdiam, merenungi arti kemerdekaan yang diperjuangkan dengan darah dan air mata para pahlawan.
Selesai upacara, Bupati RD menyampaikan rasa syukur sekaligus pesan mendalam. “Kita patut mengenang jasa para pahlawan yang berjuang demi kemerdekaan. Apa yang kita nikmati hari ini adalah buah dari pengorbanan mereka, bahkan sampai rela menyerahkan nyawa,” tuturnya.
Ia pun mengingatkan masyarakat untuk tidak berhenti pada perayaan semata. “Kemerdekaan harus dijaga dan diisi dengan karya nyata, dengan kontribusi positif yang memberi manfaat bagi bangsa dan negara,” pesannya, disambut anggukan dari para peserta.
Hari itu, di bawah kibaran Merah Putih, Minahasa seolah kembali diingatkan: kemerdekaan bukan hanya warisan, tetapi juga amanah yang harus terus dijaga. (*/AK/Advetorial)







