SULUT, MANIMPANG.com — Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara bergerak cepat merespons gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,6 yang mengguncang wilayah tersebut pada Kamis pagi (02/04/2026).
Meski peringatan tsunami telah berakhir, kenaikan muka air laut sempat terdeteksi di Halmahera Barat setinggi 0,3 meter dan di Bitung sekitar 0,2 meter.
Satu korban jiwa dilaporkan terjadi di Kelurahan Sario Utara, Kota Manado, akibat tertimpa reruntuhan bangunan.
Pemerintah Provinsi di bawah kepemimpinan Gubernur Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus SE., dan Wakil Gubernur Dr. J. Victor Mailangkay SH MH., langsung mengaktifkan posko tanggap darurat serta pusat pengendalian operasi untuk memantau kondisi secara real time.
Selain itu, koordinasi lintas sektor dilakukan bersama BMKG, BNPB, BPBD kabupaten/kota, hingga unsur TNI dan Polri guna mendukung proses evakuasi dan pengamanan di wilayah terdampak.
Pemerintah juga menginstruksikan evakuasi warga di kawasan pesisir ke titik aman serta menyiapkan lokasi pengungsian.
Pendataan kerusakan terus dilakukan, dengan laporan awal mencatat dampak pada sejumlah fasilitas publik seperti Kantor Wali Kota Manado, RS Bethesda Tomohon, rumah ibadah, serta permukiman warga di Minahasa, Bitung, dan Tomohon.
Gubernur Yulius menyampaikan bahwa pemerintah daerah terus memantau perkembangan situasi dan meminta masyarakat tetap waspada terhadap potensi gempa susulan.
“Kami mengimbau masyarakat tetap tenang, tidak terpengaruh informasi yang tidak jelas, namun tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan,” ujarnya.
Ia juga telah melaporkan kejadian tersebut kepada Menteri Dalam Negeri.
Hingga kini, pendataan masih berlangsung di 15 kabupaten/kota terdampak, dan laporan lanjutan akan disampaikan secara berkala.
Pemerintah Provinsi menyatakan akan terus mengupayakan penanganan darurat sekaligus mempercepat pemulihan infrastruktur yang terdampak bencana. (AG’Q)






