MANADO, MANIMPANG.com – Menjelang perayaan Cap Go Meh yang akan digelar besok, Selasa (3/3/2026), suasana Kota Manado terasa berbeda. Lampion-lampion mulai menghiasi sudut kota, menghadirkan warna, harapan, dan semangat kebersamaan yang telah lama menjadi ciri khas Sulawesi Utara.
Di tengah kesibukan persiapan festival, Direktur Utama PT Pengembangan Pariwisata Sulawesi Utara (PPSU), Lexi David Lintuuran, menyempatkan waktu berbincang dengan awak media Manimpang.com, di ruang kerjanya, Senin (02/03/2026).
Dengan wajah penuh optimisme, ia berbagi cerita tentang masa depan pariwisata Sulut yang kini mulai memasuki babak baru.
“Selamat merayakan Imlek dan Cap Go Meh bagi seluruh masyarakat Tionghoa di Sulawesi Utara. Ini bukan lagi sekadar perayaan satu etnis, tetapi sudah menjadi bagian dari budaya kita bersama,” ujar Lexi membuka percakapan.
Ia menuturkan, sejak dulu keberagaman budaya telah menyatu dalam kehidupan masyarakat Sulut. Bahkan, menurut cerita para tetua Minahasa, ada ikatan sejarah dengan Tiongkok yang memperkaya tradisi lokal.
“Orang tua-tua di Minahasa mengatakan leluhur kita juga berasal dari Tiongkok. Jadi wajar jika tradisi seperti ini kita jaga bersama. Festival lampion besok sangat dinanti, dan ini bukti bahwa keberagaman kita indah,” katanya.
Bagi Lexi, kekuatan budaya ini bukan hanya menjadi identitas, tetapi juga daya tarik wisata yang semakin dilirik dunia. Ia menyebut wisatawan asal Taiwan mulai menunjukkan minat yang tinggi untuk berkunjung ke Sulawesi Utara.
“Kita ingin mereka merasa diterima. Secara psikologis ini penting. Kalau wisatawan merasa nyaman, mereka akan datang lagi dan membawa lebih banyak orang,” Dirut Lexi menjelaskan.
Optimisme itu semakin menguat setelah PT PPSU resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan investor dari Tiongkok dan Singapura pada Jumat pekan lalu. Kerja sama ini menjadi langkah awal pengembangan kawasan “segitiga emas” pariwisata Sulut.
Proyek tersebut akan menghubungkan kawasan MBH di Tasik Ria, Taman Laut Bunaken, hingga Gunung Tumpa sebagai destinasi ekowisata.
“Mereka akan membangun gedung baru di Tasik Ria, lalu mengintegrasikannya dengan potensi bahari Bunaken dan keindahan Gunung Tumpa. Ini konsep besar yang akan menjadi daya tarik baru,” ungkapnya.
Ia menambahkan, para investor menunjukkan keseriusan dengan memberikan tenggat waktu 60 hari untuk merumuskan kerja sama secara konkret. Dalam proses negosiasi, PPSU juga mengajukan syarat agar dana investasi ditempatkan di Bank Sulut, demi mendorong perputaran ekonomi daerah.
“Kami ingin investasi ini benar-benar memberi dampak bagi masyarakat. Bukan hanya masuk, lalu tidak terasa manfaatnya di daerah,” ucapnya.
Tak berhenti di proyek besar, PPSU juga mulai merancang pengembangan destinasi lain di berbagai wilayah. Kerja sama dengan PT MISMA di Bitung tengah dijajaki, sementara kawasan agro wisata di Bolaang Mongondow Selatan, pemandian air panas Lahendong, hingga Bukit Kasih juga masuk dalam rencana pengembangan.
“Kita lihat potensi pasar. Wisatawan Korea sangat menyukai pemandian air panas. Ini peluang yang harus kita tangkap,” katanya.
Dari sisi target, PPSU memasang angka optimistis. Pada Juli 2026, diperkirakan 5.000 hingga 10.000 wisatawan asal Tiongkok akan datang ke Sulawesi Utara. Untuk mendukung hal itu, PPSU bahkan telah membuka kantor perwakilan di Tiongkok.
“Tim kami minggu ini akan turun langsung untuk penjajakan lanjutan. Kita ingin memastikan semua berjalan sesuai rencana,” ujarnya.
Di akhir perbincangan, Lexi menegaskan bahwa seluruh langkah ini merupakan bagian dari upaya mewujudkan visi pembangunan berkelanjutan di Sulawesi Utara. Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat, termasuk media, untuk turut mempromosikan daerah.
“Kami tidak bisa berjalan sendiri. Dukungan semua pihak, terutama media, sangat penting untuk memviralkan potensi kita. Kalau promosi kuat, wisatawan pasti datang,” tutupnya.
Perayaan Cap Go Meh di Manado kali ini pun tak hanya menjadi momen budaya, tetapi juga simbol kesiapan Sulawesi Utara menyambut dunia. Dengan investasi yang mulai mengalir dan destinasi yang terus dikembangkan, harapan besar kini menyala, bahwa Sulut akan semakin bersinar di peta pariwisata global. (AG’Q)







