MANADO, MAMIMPANG.com – Menjelang senja, cahaya lampion mulai dibayangkan berpendar di langit Kota Manado. Warna-warni yang menggantung di sepanjang kawasan Pecinan bukan sekadar hiasan, melainkan penanda bahwa satu perayaan budaya yang telah lama berakar akan kembali hadir.
Besok, Selasa (03/03/2026), Festival Lampion Cap Go Meh siap menghidupkan denyut pariwisata Sulawesi Utara sekaligus menghadirkan kegembiraan bagi warga dan wisatawan.
Di tengah harapan itu, Komisaris Utama Pengembangan Pariwisata Sulawesi Utara (PPSU), Benny Parasan, menyampaikan optimismenya, saat diwawancara, Wartawan Manimpang.com, Senin (02/03/2026).
Ia melihat festival ini bukan hanya seremoni tahunan, tetapi juga bagian dari identitas budaya yang telah melekat di Manado sejak lama.
“Tentu kami di PPSU sangat mendukung langkah-langkah kegiatan seperti ini. Ini adalah bagian dari legenda pariwisata kita yang perlu terus didorong, baik oleh masyarakat maupun pemerintah provinsi,” ujar Benny Parasan.
Perayaan Cap Go Meh yang dipusatkan di kawasan Klenteng Ban Hin Kiong dipastikan kembali menjadi magnet utama. Di tempat inilah tradisi, sejarah, dan kebersamaan berpadu, menghadirkan suasana yang khas dan sulit ditemukan di tempat lain.
Bagi pelaku usaha, festival ini bukan sekadar hiburan. Keramaian yang tercipta menjadi peluang ekonomi yang nyata. Kehadiran wisatawan dari berbagai daerah hingga mancanegara memberi dampak langsung pada sektor UMKM, perhotelan, hingga transportasi lokal.
“Setiap kegiatan ini, banyak orang-orang dari luar datang ke sini untuk menyaksikan kemeriahan festival. Efek ekonominya nyata dan sangat terasa,” katanya.
Tak hanya soal ekonomi, festival ini juga menjadi ruang ekspresi budaya yang hidup. Deretan lampion yang menghiasi jalan akan berpadu dengan pertunjukan seni tradisional Tionghoa, menciptakan pengalaman visual yang memikat.
Salah satu yang paling ditunggu adalah atraksi barongsai dan naga (liong). Gerakan lincah dan energik para pemain selalu berhasil mengundang decak kagum, terutama dari anak-anak yang memadati lokasi.
“Yang paling seru, anak-anak suka melihat atraksi barongsai dan naga itu. Ada gambaran yang unik dan menarik di dalamnya,” ujarnya.
Di balik atraksi tersebut, tersimpan nilai-nilai yang bagi sebagian orang dianggap sarat makna spiritual. Namun, bagi masyarakat yang merayakan, semua itu merupakan bentuk ungkapan syukur atas berkat yang diterima.
“Saya kira itu adalah sesuatu yang biasa bagi mereka. Ini adalah bentuk syukur mereka atas berkat-berkat yang diberikan,” Benny menjelaskan.
Kawasan Chinatown Manado diperkirakan akan dipadati pengunjung. Rute atraksi dan pengaturan lokasi telah disiapkan agar masyarakat dapat menikmati perayaan dengan aman dan nyaman.
Lebih dari sekadar festival, Cap Go Meh menjadi momentum kebersamaan yang mempertemukan berbagai lapisan masyarakat. Pemerintah dan masyarakat pun diharapkan terus berkolaborasi agar potensi pariwisata daerah semakin berkembang.
“Saya kira ini gambaran singkat untuk pariwisata kita ke depan. Mari kita dukung bersama agar kegiatan ini berjalan lancar dan sukses,” pungkasnya.
Di bawah cahaya lampion yang akan segera menyala, Manado tak hanya merayakan tradisi, tetapi juga menyalakan harapan—bahwa pariwisata, budaya, dan ekonomi dapat tumbuh bersama, membawa manfaat bagi semua. (AG’Q)







