MINAHASA TENGGARA, MANIMPANG.com — Upaya sejumlah wartawan melakukan pemantauan dugaan penyelewengan BBM bersubsidi di SPBU Tababo, Kecamatan Belang, Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra), berujung aksi kekerasan, Rabu (04/03/2026) dini hari.
Salah satu jurnalis dilaporkan mengalami luka setelah diduga dikeroyok oleh sekelompok orang di area SPBU tersebut.
Peristiwa itu terjadi lewat tengah malam ketika sejumlah wartawan sedang melakukan pemantauan aktivitas distribusi solar bersubsidi.
Situasi di lokasi awalnya terlihat normal hingga keberadaan wartawan diduga diketahui oleh beberapa orang di area SPBU.
Menurut keterangan korban Onal di lokasi, ketegangan mulai meningkat ketika salah satu pria diduga berteriak kepada pengawas atau karyawan SPBU.
“Kase mati jo itu lampu, torang mo bunung sini pa dorang,” ujar Onal menirukan teriakan tersebut.
Tidak lama setelah teriakan itu, lampu di area SPBU tiba-tiba dipadamkan. Dalam kondisi gelap itulah diduga terjadi pengeroyokan terhadap wartawan yang sedang melakukan investigasi.
Korban disebut dipukul menggunakan benda keras menyerupai balok oleh beberapa orang yang diduga merupakan kaki tangan jaringan mafia solar yang beroperasi di lokasi tersebut. Akibat kejadian itu, korban mengalami luka fisik serta trauma.
Insiden tersebut memunculkan dugaan bahwa kekerasan terjadi saat wartawan tengah melakukan peliputan terkait distribusi BBM bersubsidi.
Korban Onal juga mengatakan bahwa saat itu mereka sedang menjalankan tugas jurnalistik untuk memantau dugaan penyimpangan distribusi BBM.
“Kami datang untuk melakukan investigasi sebagai bagian dari tugas jurnalistik. Kegiatan seperti ini dilindungi Undang-Undang Pers,” kata Onal.
Kontroversi juga muncul setelah orang kepercayaan pemilik SPBU yang disebut sebagai koordinator di lokasi, VR alias Vanda, dimintai klarifikasi terkait peristiwa tersebut.
Menurut korban Onal, respons yang diberikan justru tidak menunjukkan kepedulian terhadap insiden kekerasan yang terjadi.
“Sebagai koordinator di SPBU, dia terlihat seperti tidak menunjukkan empati atas kejadian yang menimpa insan pers,” ujarnya.
Korban menambahkan, Vanda tidak mengenal para pelaku pemukulan dan mempersilakan jika peristiwa tersebut diberitakan.
“Silakan diberitakan. Saya tidak takut jika masalah ini diangkat ke media. Saya tidak kenal dengan para pelaku pemukulan tersebut,” kata Onal, mengutip pernyataan Vanda.
Kasus ini memunculkan pertanyaan mengenai dugaan praktik mafia BBM bersubsidi di wilayah tersebut.
Korban Onal berharap aparat penegak hukum dapat mengusut peristiwa penganiayaan sekaligus menelusuri dugaan jaringan penyelewengan solar di SPBU Tababo.
“Kami berharap aparat tidak hanya mengusut penganiayaan, tetapi juga mengungkap dugaan mafia solar yang beroperasi di lokasi ini,” ujarnya.
Peristiwa tersebut kembali menjadi sorotan terkait keamanan jurnalis saat menjalankan tugas peliputan di lapangan. (TIM)







