MANADO, MANIMPANG.com — Suasana di tengah riuh rendah perdebatan publik dan derasnya arus hujatan yang sempat diarahkan kepadanya, mantan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, memilih jalan yang tidak semua orang mampu tempuh: memaafkan.
Tuduhan demi tuduhan, termasuk isu sensitif mengenai keaslian ijazahnya, sempat menggema dan melukai ruang publik.
Namun Jokowi merespons bukan dengan amarah, melainkan dengan ketenangan dan kelapangan hati.
Sikap itu kembali menerangkan sosok Jokowi sebagai seorang negarawan yang berhati besar, bahkan oleh banyak pihak disebut berhati malaikat.
Ia menunjukkan bahwa kekuasaan sejati tidak terletak pada kemampuan membalas, melainkan pada keberanian untuk memaafkan.
Dalam diam dan kesederhanaannya, Jokowi memberi pelajaran penting tentang etika kepemimpinan, kedewasaan berdemokrasi, serta nilai kemanusiaan yang kerap tergerus oleh kepentingan politik.
Bagi sebagian masyarakat, sikap ini bukan sekadar gestur pribadi, tetapi teladan moral.
Teladan bagi para mantan pemimpin, sekaligus bagi mereka yang saat ini masih mengemban amanah kekuasaan, bahwa perbedaan pandangan tidak harus berujung pada kebencian.
Harapan pun mengalir tulus: semoga Presiden Jokowi senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan, dan keberkahan bersama keluarga.
Sosoknya akan terus dikenang, bukan hanya karena kebijakan, tetapi karena ketulusan hati yang menenangkan bangsa. (AG’Q)





