MANADO, MANIMPANG.com — Pada penghujung tahun, ketika kalender hampir menutup lembar terakhirnya, gerbong mutasi di tubuh Kepolisian Negara Republik Indonesia kembali bergerak.
Nama-nama berpindah, jabatan bergeser, dan di antara deretan itu, satu sosok mencuat bukan karena pangkat semata, melainkan karena jejak yang ditinggalkannya: AKBP Tommy Bambang Souissa SIK.
Surat telegram Kapolri tertanggal 15 Desember 2025—Nomor ST.2781 hingga ST.2784/XII/KEP./2025—menjadi penanda babak baru dalam perjalanan seorang perwira yang telah lama akrab dengan denyut masyarakat Sulawesi Utara.
Dari Kasubdit Multimedia Bidhumas Polda Sulut, ia ditugaskan sebagai Kepala Bagian Pengendalian Personel Biro SDM Polda Maluku.
Bagi sebagian orang, mutasi adalah rutinitas. Bagi Tommy, ini adalah kepulangan.
“Setiap tugas adalah kehormatan, tetapi kembali mengabdi di tanah kelahiran membawa tanggung jawab yang lebih dalam,” ujarnya lirih, seolah menimbang makna di balik kalimat itu.
Nama Tommy Bambang Souissa- atau TBS, sebagaimana ia kerap disapa- pernah menjadi bagian dari cerita Minahasa. Saat menjabat Kapolres Minahasa, ketegasan melekat pada caranya memimpin, namun kemanusiaan selalu berjalan di sampingnya.
Ia hadir di ruang-ruang yang jarang tersorot: panti asuhan yang senyap, rumah-rumah lansia di sudut desa, dan warga kecil yang tak selalu punya suara.
“Seragam memberi kewenangan, tetapi hati yang memberi arah,” katanya suatu ketika, menjelaskan prinsip yang ia pegang dalam bertugas.
Kedekatannya dengan insan pers, keterbukaannya pada kritik, serta gaya bicara yang lugas membuat namanya mudah dikenali.
Kepercayaan kemudian membawanya ke Bitung, memimpin sebagai Kapolres. Namun di sana pula, ketegasan itu berhadapan dengan dinamika.
Jalan lurus tak selalu lapang; sikap tanpa kompromi kerap menimbulkan riak, bahkan di lingkar terdekat.
Riak itu akhirnya mengantarnya kembali ke Mapolda Sulawesi Utara, mengisi ruang di Bidang Humas. Bukan sebagai kemunduran, melainkan fase sunyi dalam perjalanan panjang pengabdian.
Kini, ia melangkah ke Maluku, tanah yang menyimpan asal-usul, sekaligus harapan. Sebagai Kabagdalpers, AKBP Tommy memegang peran yang tak kasatmata namun menentukan: menyaring, membina, dan menjaga kualitas manusia-manusia berseragam yang kelak berdiri di garda pelayanan publik.
“Tantangan terbesar bukan hanya aturan, tetapi karakter. Di sanalah tugas saya,” tuturnya.
Diketahui, Kepulauan rempah, tempat laut dan sejarah berkelindan, ia datang bukan sekadar membawa jabatan, melainkan pengalaman. Tegas, sebagaimana seragam yang dikenakannya.
Hangat, sebagaimana manusia yang tak pernah ia lepaskan dari tugasnya.
Perjalanan mungkin berputar, tetapi bagi AKBP Tommy Bambang Souissa, pengabdian akhirnya kembali ke rumah.
Selamat bertugas di tanah leluhur tercinta. (AG’Q)






