MINUT, MANIMPANG.com — Berhadapan ratusan mahasiswa yang duduk antusias, Gubernur Sulawesi Utara, Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus SE, membuka kuliah umumnya dengan cara yang tak biasa.
Suasana aula Universitas Klabat (Unklab) di Minahasa Utara itu berubah hangat, bahkan sesekali diselingi tawa, ketika ia berbagi kisah perjalanan hidup sekaligus gagasan besar tentang masa depan daerah, pada Kamis (26/02/2026).
“Saya ini 34 tahun menjadi prajurit. Dari situ saya belajar banyak tentang strategi dan kepemimpinan,” ujarnya, membuka materi yang tidak hanya berbicara teori, tetapi juga pengalaman nyata di lapangan.
Dalam kuliah umum tersebut, Gubernur mengisahkan perjalanan kariernya, mulai dari 23 tahun di korps baret merah hingga 11 tahun berkecimpung di dunia intelijen dan Kementerian Pertahanan.
Ia bahkan pernah menjabat sebagai Kepala Instalasi Strategis Pertahanan dan menjadi Asisten Khusus Menteri Pertahanan saat dijabat Prabowo Subianto.
“Kalau bicara server, hati-hati. Saya pernah menangani itu. Dari foto saja, saya bisa tahu asalnya dari mana,” katanya, disambut riuh mahasiswa.
Kuliah umum ini digelar untuk memberikan wawasan kebangsaan, strategi pembangunan, serta memotivasi generasi muda.
Gubernur Yulius menggabungkan pengalaman militernya dengan arah kebijakan pembangunan daerah, termasuk memperkenalkan konsep klasik dari buku The Art of War karya Sun Tzu.
“Kenali dirimu, kenali musuhmu, seribu kali bertempur, seribu kali menang,” ucapnya.
Ia mengatakan bahwa filosofi tersebut tidak hanya berlaku dalam perang, tetapi juga dalam pembangunan daerah.
Menurut Gubernur, Sulawesi Utara memiliki potensi besar yang belum sepenuhnya dimanfaatkan. Dengan luas wilayah sekitar 64.965 km², di mana 78 persen adalah laut, provinsi ini justru belum menikmati hasil maksimal dari sektor perikanan.
“Setiap tahun kita mengekspor sekitar Rp1,3 triliun, tapi daerah tidak mendapatkan apa-apa. Kita yang punya laut, tapi orang lain yang menikmati,” ungkapnya.
Ia menilai, kunci pembangunan adalah mengenali potensi diri, baik dari aspek geografis, demografis, maupun sosial.
Sulawesi Utara yang berada di gerbang Asia Pasifik dan dilalui jalur pelayaran internasional dinilai memiliki posisi strategis yang harus dimanfaatkan secara maksimal.
Selain itu, Yulius juga menyoroti pentingnya pendidikan yang tidak hanya menekankan kecerdasan intelektual, tetapi juga pembentukan karakter.
“Tidak cukup hanya pintar. Harus kuat juga mental dan karakter. Kalau hanya otak yang pintar tapi mentalnya lemah, itu sia-sia,” pesannya kepada mahasiswa.
Ia pun mendorong generasi muda untuk lebih kreatif dan inovatif, tidak sekadar mengejar gelar.
Menurut Yulius, kemampuan praktik dan keberanian berinovasi jauh lebih menentukan dalam menghadapi tantangan masa depan.
Kuliah umum ini menjadi momentum refleksi sekaligus motivasi, bahwa pembangunan tidak hanya soal kebijakan, tetapi juga soal cara berpikir dan keberanian mengambil langkah besar.
“Jangan hanya naik tangga. Kita butuh lompatan besar,” harap Gubernur Sulut, menutup paparannya.
Diketehui, dalam satu tahun kepemimpinan Gubernur Yulius bersama Wakil Gubernur Victor Mailangkay, sejumlah capaian strategis. Inflasi Sulawesi Utara berhasil ditekan di angka 3,04 persen pada akhir Februari 2025, lebih rendah dari inflasi nasional.
Pengangguran juga menurun setelah realisasi investasi sebesar 1,8 triliun rupiah di Minahasa Utara dan Bitung mampu membuka lapangan kerja bagi sekitar 18.000 orang. (AG’Q)







