SULUT, MANIMPANG.com — Ribuan warga dari berbagai kampung adat Suku Bantik se-Sulawesi Utara memadati kawasan Megamas Pohon Kasih, Manado, Sabtu (05/09/2026).
Mengenakan pakaian dan atribut budaya, masyarakat larut dalam parade seni dan tradisi yang menjadi bagian dari Festival Seni Budaya Bantik.
Festival tersebut sekaligus dirangkaikan dengan peringatan 77 tahun gugurnya Pahlawan Nasional Robert Wolter Mongisidi, sosok pemuda Bantik yang dikenal karena keberanian dan kecintaannya terhadap Tanah Air.
Kegiatan ini menjadi puncak rangkaian agenda yang telah berlangsung sejak Juli 2026.
Acara secara resmi dibuka Sekretaris Provinsi Sulawesi Utara, Tahlis Gallang, S.IP., M.M.
Di hadapan ketua adat, tokoh agama, jajaran TNI/Polri, serta perwakilan diaspora Bantik dari sejumlah negara dan daerah, Tahlis menyampaikan apresiasi terhadap masyarakat Bantik yang terus menjaga tradisi dan memperkuat kebersamaan.
“Festival ini bukan sekadar perayaan. Ini adalah momentum penting untuk mewariskan budaya luhur kepada generasi muda sekaligus meneladani semangat juang Pahlawan Nasional Robert Wolter Mongisidi dalam mencintai tanah air dan menjaga persatuan,” ujarnya.
Festival tahun ini membawa pesan penting mengenai pelestarian identitas budaya di tengah perkembangan zaman dan modernisasi.
Suasana semakin semarak ketika parade budaya dari 11 banua atau kampung adat Suku Bantik tampil bergantian.
Perwakilan kampung seperti Singkil, Buha, Bengkol, Talawaan Bantik, Molas, Bailang, Tanamon, hingga Ratahan ikut menampilkan kekayaan seni dan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Salah satu atraksi yang menarik perhatian masyarakat adalah Tarian Mahamba. Tradisi tersebut menjadi bagian dari kekayaan budaya Bantik yang terus dipertahankan hingga kini.
Selain itu, tarian perang khas Bantik juga ditampilkan. Gerakan para penari menggambarkan keberanian, kekuatan, serta semangat perjuangan yang menjadi bagian dari narasi budaya masyarakat Bantik.
Ketua Panitia Pelaksana, Albert Mokodongan, S.E., mengatakan festival tersebut menjadi salah satu cara masyarakat Bantik memastikan warisan leluhur tetap dikenal oleh generasi berikutnya.
“Semangat perjuangan Robert Wolter Mongisidi terus kami kenang sebagai inspirasi untuk mencintai tanah air dan menjaga persatuan,” katanya.
Peringatan tahun ini juga menjadi momentum untuk kembali mengenang perjalanan hidup Robert Wolter Mongisidi atau yang akrab disapa “Bote”.
Ia merupakan pemuda Bantik yang gugur pada usia 24 tahun setelah dieksekusi oleh Belanda di Makassar pada 5 September 1949.
Mongisidi memilih mempertahankan keyakinan dan perjuangannya daripada mengkhianati perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Pengorbanannya kemudian menjadi bagian penting dari sejarah perjuangan bangsa. Nama Robert Wolter Mongisidi pun dikenang sebagai salah satu pahlawan nasional Indonesia.
Bagi masyarakat Bantik, peringatan tersebut bukan hanya agenda tahunan. Festival menjadi ruang untuk mempertemukan sejarah, seni, adat, dan generasi muda dalam satu panggung.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara berharap semangat kepahlawanan dan kecintaan terhadap budaya dapat terus tumbuh di kalangan generasi muda, tidak hanya bagi putra-putri Bantik, tetapi juga seluruh masyarakat Sulawesi Utara.
“Budaya adalah identitas, dan menghormati jasa pahlawan adalah kewajiban bagi setiap anak bangsa,” menjadi pesan yang mengiringi pelaksanaan festival tersebut. (AG’Q)
