Mei 12, 2026

MANADO – MANIMPANG.COM – Dewan Pengurus Daerah (DPD)  Forum Pelatihan Vokasi (Forlat)  Sulawesi Utara (Sulut)  bekerjasama dengan  International Labour Organization (ILO)    menyelenggarakan dialog tripartit tentang pembangunan ekonomi berkelanjutan dan inklusif di Provinsi Sulawesi Utara, pada Selasa (29/8/2023) di Hotel Grand Puri Manado.


Diketahui, Dialog tersebut  melibatkan unsur tripartit yang terdiri perwakilan  Pemerintah, Pengusaha dan Masyarakat.

Kemudian Ketua Forlat DPD Sulut Daniel Pangemanan SH MH menjelaskan, tujuan utama pelaksanaan dialog tripartite ini untuk meningkatkan ekonomi di Sulawesi Utara bekerja sama dengan berbagai pihak seperti pihak ILO yang juga organisasi PBB yang bergerak di bidang ekonomi, lingkungan, sosial budaya dan tenaga kerja.

“Ini adalah momen yang sangat tepat bagaimana membangun ekonomi berkelanjutan dan inklusif yang di dalamnya ada pemerintah, masyarakat serta lebaga internasional ILO yang sangat eksis dalam pembangun berkelanjutan,” jelasnya.

Lanjutnya, Forlat telah berupaya mendatangkan pihak ILO dan meyakinkan mereka bahwa kerja sama ini sangat bermanfaat.

“Ada banyak contoh mereka (ILO) mengangkat ekonomi yang ada di pelosok baik secara sosial budaya lingkungan dengan percontohan seperti yangada di  Desa Budo Wori,” katanya.

Daniel juga berharap, kegiatan ini akan ada kesimpulanya sehingga bisa  ditindak lanjuti serta dapat membuat suatu kegiatan yang berdampak secara ekonomi di Sulawesi Utara.

Dalam kesempatan yang sama,  Tendy Gunawan National Programme Officer, ILO Jakarta  menyatakan, saat membahas ekonomi berkelanjutan ada dua sisi yang harus diperhatikan. Pertama kegiatan ekonomi  tidak berseberangan dengan konservasi lingkungan yang artinya ekonomi tumbuh lingkungan aman.

“Yang kedua ada inklusif pertumbuhan ekonomi tidak meninggalkan kelompok tertentu seperti kelompok disabilitas, ekonomi lokal, contohnya pertumbuhan ekonomi tidak memberikan benefit (keuntungan) bagi masyarakat setempat  yang dikarenakan berbagai hal seperti ketrampilan yang rendah,” katanya.

Sejauh ini menurutnya, pembangunan ekonomi berkelanjutan di tanah air ataupun di Sulut harus banyak diperhatikan karena forum yang dilaksanakan saat ini akan dibahas.

Menyikapi pemberian Corporat Social Responsibilty (CSR) dari pihak pengusaha konsepnya untuk filantrophis (organisasi) atau untuk charity (bantuan sosial) seperti untuk membangun tempat ibadah, sekolah, Tendy Gunawan menjelasakn di ILO mempunyai prinsip multi nasional enterprise atau juga labour CSR, dimana CSR itu juga harus berkelanjutan (sustainable).

“Bagaimana program  CSR berkelanjutan, selain menguntungkan masyarakat juga menguntungkan perusahan,” jelasnya.

Diapun mencontohkan perusahan garmen memberikan pelatihan bagi kaum disablitas untuk menjahit, nanti setelah bisa menjadi diserap perusahaan  sehingga mereka produktif sehingga ada win-win solution yaitu menguntungkan perusahan juga menguntungkan warga.

“Dalam  dialog tripartit  dihadiri  puluhan peserta  yang berasal  dari berbagai unsur dari Pemerintah Provinsi, Pengusaha, NGO dan perwakilan 2 desa sasaran  kegiatan ILO,” ia menambahkan. (*/Angky)