SULUT, MANIMPANG.com – Di balik angka pengangguran dan kelompok anak muda yang tidak bekerja, tidak sekolah, maupun tidak mengikuti pelatihan, terdapat cerita tentang fase hidup yang tak selalu terbaca dari tabel statistik semata.
Pesan itu disampaikan Gubernur Sulawesi Utara (Sulut), Yulius Selvanus, dalam kegiatan Coffee Morning bersama awak media di Graha Bumi Beringin, Manado, Rabu (26/8/2026) pagi.
Di hadapan para Jurnalis, Gubernur tak hanya membahas angka Not in Education, Employment, or Training (NEET) yang tengah menjadi perhatian publik.
Ia juga membuka ruang seluas-luasnya bagi kritik, koreksi, bahkan pemberitaan yang menyoroti kekurangan pemerintah.
Satu kalimat menjadi penanda kuat dari pertemuan tersebut. “Kami tidak tidur, kawan-kawan. Sehari paling saya cuma tidur dua jam demi memikirkan dan bekerja untuk Sulawesi Utara,” ujarnya.
Pernyataan itu menjadi jawaban atas anggapan bahwa tingginya angka NEET berarti pemerintah daerah tidak bekerja.
Gubernur meminta masyarakat tidak memaknai angka NEET secara sederhana. Menurutnya, banyak situasi yang dapat menyebabkan seseorang masuk dalam kategori tersebut, seperti baru menyelesaikan pendidikan dan berada dalam masa transisi, menunggu kesempatan kerja, menyelesaikan pelatihan, atau berada dalam fase perubahan hidup misalnya menikah.
Karena itu, Gubernur mengatakan bahwa angka statistik perlu dibaca berdampingan dengan kondisi sosial dan ekonomi di lapangan. “Soal NEET ini tidak bisa dipukul rata.
Ada anggapan seolah-olah gubernur tidak bikin apa-apa karena angkanya di atas rata-rata nasional. Tentu tidak demikian,” ujarnya.
Ia juga menyoroti dinamika waktu pendataan oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
Menurut Yulius, momen survei kerap bertepatan dengan masa transisi seseorang sebelum benar-benar masuk dunia kerja atau kembali mengikuti pendidikan dan pelatihan.
Bagi Gubernur, angka tidak boleh berdiri sendiri. Ia perlu ditempatkan dalam konteks yang lebih luas agar masyarakat mendapat gambaran utuh tentang kondisi Sulut.
Ia juga mengajak media melihat indikator ekonomi lain secara bersamaan.
Gubernur menyebut Rasio Gini Sulawesi Utara yang menunjukkan tingkat kesenjangan pengeluaran masyarakat relatif rendah.
Karena itu, ia menilai indikator NEET perlu disandingkan dengan pertumbuhan ekonomi dan berbagai indikator lainnya. Pesannya sederhana: persoalan ekonomi tidak bisa dibaca dari satu angka saja.
Di tengah persoalan lapangan kerja, pemerintah tetap dituntut menggerakkan sektor-sektor produktif agar semakin banyak masyarakat memiliki kesempatan bekerja dan meningkatkan kesejahteraan. Namun YSK menyadari, pekerjaan pemerintah tidak akan pernah selesai.
Yang menarik, pertemuan itu tak hanya menjadi ajang pemaparan capaian pemerintah.
Gubernur Sulut justru secara terbuka menyatakan: “Tidak ada yang sempurna. Maka siap koreksi,” jelasnya.
Menurut Yulius, kritik dari media dan masyarakat bukan hal yang harus dihindari. Sebaliknya, kritik dapat menjadi cermin bagi pemerintah untuk melihat bagian yang masih kurang, program yang belum maksimal, hingga persoalan yang belum terselesaikan.
Ia mempersilakan media memberitakan persoalan yang ditemukan di lapangan. “Kalau ada, beritakan saja,” katanya.
Namun, dia mengingatkan agar kritik dibangun di atas fakta.
Ia meminta agar kritik tidak dicampuri informasi keliru atau penggunaan akun-akun palsu di media sosial yang dapat memperkeruh ruang publik. “Jangan kata bohong,” harapnya.
Bagi Yulius, pemerintah dan media tidak semestinya berada dalam posisi berhadapan.
Pemerintah membutuhkan media untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat, sementara media membutuhkan keterbukaan pemerintah agar bisa memperoleh informasi yang benar, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Coffee Morning tersebut tidak sekadar pertemuan seremonial.
Di meja yang sama, pemerintah dan wartawan duduk dalam ruang dialog, membicarakan angka, kritik, program, hingga persoalan yang dirasakan masyarakat.
Gubernur ingin komunikasi semacam itu terus dibangun. “Kami justru ingin dikoreksi. Apakah yang sempurna? Mana ada program yang sempurna,” katanya.
Kalimat itu sekaligus menjadi pesan bahwa pemerintah tak seharusnya menutup pintu saat kritik datang.
Pada akhirnya, persoalan NEET bukan sekadar angka.
Di baliknya ada anak-anak muda yang mencari pekerjaan, keluarga yang menunggu penghasilan, dan generasi yang membutuhkan ruang berkembang.
Di sisi lain, ada pemerintah yang dituntut menjawab persoalan tersebut dengan kebijakan nyata.
Gubeenur menyampaikan bahwa dirinya bersama jajaran Pemprov Sulut terus bekerja mendorong perekonomian, membuka ruang produktif, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Kami tidak tidur, kawan-kawan. Sehari paling saya cuma tidur dua jam demi memikirkan dan bekerja untuk Sulawesi Utara.”
Pernyataan itu mungkin terdengar sederhana.
Namun di tengah perdebatan mengenai angka NEET, kritik terhadap pemerintah, dan tuntutan masyarakat akan perubahan, kalimat tersebut menjadi penegasan : pekerjaan pemerintah belum selesai, dan kritik justru dibutuhkan untuk memastikan langkah berikutnya tidak salah arah.
Coffee Morning pun berakhir bukan dengan janji bahwa semua persoalan telah selesai, melainkan dengan kesepakatan bahwa pemerintah dan media harus terus berbicara.
Karena bagi masyarakat, yang terpenting bukanlah siapa yang paling benar dalam perdebatan, melainkan siapa yang benar-benar bekerja ketika persoalan datang mengetuk pintu. (AG’Q)
