MINAHASA, MANIMPANG.com — Musim kemarau dengan kondisi cuaca yang semakin kering membuat masyarakat Kabupaten Minahasa perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap dampak kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) serta paparan asap.
Pemerintah Kabupaten Minahasa melalui Dinas Kesehatan mengingatkan masyarakat untuk menjaga kesehatan dan mengurangi risiko gangguan pernapasan maupun penyakit lainnya yang dapat muncul akibat kondisi lingkungan yang kering dan paparan asap.
Kepala Dinas Kesehatan Minahasa, Dr. dr. Olviane I. Rattu, M.Si., mengatakan kondisi cuaca saat ini dapat berdampak langsung terhadap kesehatan masyarakat.
“Sekarang ini kita berada di musim yang panas, dapat dikatakan musim yang sangat-sangat kering, dan memang itu berdampak langsung kepada masyarakat,” ujarnya.
Ia mengimbau masyarakat menjaga pola makan, cukup beristirahat, serta memperbanyak konsumsi air putih.
Aktivitas di luar ruangan juga sebaiknya dibatasi, terutama pada waktu ketika paparan sinar ultraviolet cukup tinggi.
Menurut Kadis, kondisi tersebut juga dapat memicu gangguan pada saluran pernapasan.
Masyarakat yang mengalami flu atau batuk dianjurkan menggunakan masker, terlebih ketika berada di lingkungan yang terpapar debu, abu maupun asap kebakaran.
“Yang kedua juga kita itu keluar rumah harus menggunakan masker sebaiknya. Apalagi yang ada gangguan kesehatan berupa flu atau batuk-batuk ringan,” katanya.
Olviane juga mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan ketersediaan dan kebersihan air.
Pada musim kemarau, sejumlah sumber air dapat mengalami penurunan debit atau gangguan distribusi.
Air yang ditampung perlu ditutup dengan baik agar tidak menjadi tempat berkembang biaknya jentik nyamuk.
Hal ini dinilai penting karena kondisi penampungan air terbuka dapat meningkatkan risiko berkembangnya nyamuk penyebab demam berdarah dengue (DBD).
Selain menjaga kesehatan, masyarakat yang berada di sekitar lokasi rawan kebakaran juga diminta memperhatikan potensi pemicu Karhutla.
Pembakaran sampah, puntung rokok, percikan api maupun penggunaan listrik yang tidak terkontrol perlu dihindari.
“Kalau pun membakar sampah, kalau pun ada itu disiram sampai memang ke dalam tanahnya. Itu harus dipastikan apinya tidak ada,” Kadis Kesehatan menjelaskan.
Ia juga mengingatkan agar peralatan listrik, termasuk pengisi daya telepon seluler, tidak dibiarkan terhubung dengan sumber listrik tanpa pengawasan.
Bagi masyarakat yang berada di sekitar lokasi kebakaran, kewaspadaan terhadap asap juga perlu ditingkatkan.
Paparan asap dapat memengaruhi saluran pernapasan, terutama bagi masyarakat yang memiliki sensitivitas atau alergi tertentu.
“Asap itu sumber penyakit, apalagi untuk orang-orang tertentu yang ada alergi. Dia bisa menyebabkan timbulnya penyakit-penyakit asma, kemudian dia akan menyebabkan infeksi pernapasan bagian atas, sampai bagian bawah, bisa sampai pneumonia,” ujarnya.
Untuk mengurangi risiko paparan asap di dalam rumah, masyarakat dianjurkan menutup jendela dan membatasi masuknya asap ke dalam ruangan.
Warga juga diminta segera berkoordinasi dengan pemerintah setempat apabila kondisi lingkungan mulai terdampak kebakaran atau asap.
Dinas Kesehatan Minahasa, lanjut Kadis, juga menyiapkan masker melalui fasilitas pelayanan kesehatan.
Masyarakat yang membutuhkan masker dapat berkoordinasi dengan puskesmas terdekat.
“Kalau masyarakat ada yang mungkin perlu masker darurat, itu bisa langsung ke puskesmas. Di Puskesmas kita siapkan karena logistik untuk masker di gudang farmasi saat ini kondisinya cukup ada, cukup ada itu sampai akhir tahun,” katanya.
Selain itu, masyarakat dianjurkan menjaga lingkungan dengan mempertahankan tanaman tetap hijau selama ketersediaan air memungkinkan.
Pola hidup bersih dan sehat, konsumsi makanan bergizi, serta kecukupan air minum juga perlu terus dijaga selama musim kemarau.
“Kalau kita memang masih ada ketersediaan air, mari kita siram tanaman-tanaman yang ada supaya memang ada pertumbuhan hijau kembali,” pungkasnya. (AG’Q)
