MANADO, MANIMPANG.com — Pagi itu, asap perlahan membubung dari kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumompo Manado, Kamis (24/09/2926).
Bara menjalar di antara tumpukan yang selama ini menjadi bagian dari keseharian para pekerja yang mengabdikan waktu dan tenaga mereka di tempat tersebut.
Mereka adalah Pahlawan Kemanusian dan Lingkungan, yang rela berkorban dalam melaksanakan tugasnya.
Pada saat itu, hati para pejuang itu ikut terbakar.
Bagi sebagian orang, TPA mungkin hanya terlihat sebagai tempat penampungan sampah.
Namun bagi mereka yang setiap hari bekerja di sana, tempat itu menyimpan cerita panjang tentang pengabdian, keringat, kesabaran, dan perjuangan yang tidak selalu terlihat.
Ketika api mulai membesar, yang terbakar bukan hanya tumpukan material.
“Api bukan hanya membakar tumpukan yang telah lama kami jaga, tetapi juga membakar kesabaran dan harapan,” demikian gambaran perasaan yang muncul di tengah situasi tersebut.
Di antara bara yang menyala dan asap yang memenuhi udara, terlihat jejak perjuangan orang-orang yang selama ini bekerja dalam senyap.
Ada tangan-tangan yang mungkin tidak dikenal banyak orang.
Ada keringat yang jarang mendapatkan pujian.
Ada pula hati yang tetap bertahan, meski tidak semua orang mengetahui betapa berat menjaga tempat tersebut.
Tempat itu bukan sekadar timbunan sampah. Di sana ada cerita tentang pengabdian, tentang orang-orang yang bekerja ketika sebagian besar memilih menjauh.
Pemandangan pagi itu menyisakan kesedihan tersendiri.
Ketika api seolah menari di atas luka, muncul sebuah pertanyaan yang hanya terucap dalam diam.
“Mengapa sesuatu yang kita rawat dengan hati, harus diuji dengan api?”
Asap yang terus membubung ke langit seakan membawa doa dari mereka yang selama ini bekerja tanpa banyak bicara.
Kesedihan itu bukan semata karena TPA terbakar. Ada rasa kehilangan terhadap perjuangan yang selama ini dirawat bersama.
Sedih, bukan hanya karena TPA terbakar, tetapi karena di balik api itu ada perjuangan yang seolah ikut hangus, ada harapan yang nyaris padam, dan ada hati yang diam-diam menangis tanpa suara.
Namun, di balik kepulan asap dan tanah yang menghitam, masih ada keyakinan bahwa kebakaran bukanlah akhir dari sebuah perjuangan.
Abu bukanlah akhir dari sebuah perjuangan.
Sebab, seperti cinta yang tumbuh dari ketulusan, luka tidak selalu menjadi penutup sebuah perjalanan.
Ada saat untuk menangis, ada waktu untuk terdiam, tetapi selalu ada kesempatan untuk kembali berdiri.
Api yang berkobar hingga malam menjadi saksi bahwa pernah ada orang-orang yang mencintai pekerjaannya, bahkan lebih dalam daripada yang mampu mereka ungkapkan dengan kata-kata.
Kini, harapan diarahkan pada tanah yang menghitam itu.
Semoga dari sana kembali tumbuh semangat untuk menjaga dan memperbaiki apa yang telah terluka.
“TPA ini boleh terbakar, tetapi semangat pengabdian tidak boleh ikut menjadi abu.”
Kelak, ketika tempat tersebut kembali tertata dan hijau, pagi penuh asap itu mungkin akan dikenang bukan sebagai akhir.
Melainkan sebagai sebuah luka yang mengajarkan banyak hal tentang mencintai, menjaga, dan bangkit bersama.
Sebab di balik setiap tumpukan yang terlihat, ada manusia yang bekerja.
Dan di balik pekerjaan yang sering luput dari perhatian, ada hati yang terus bertahan. (AG’Q)
