Oktober 22, 2026
file_00000000211c82469361672dfe7b032a

KOTAMOBAGU, MANIMPANG.com — Selembar ijazah bukanlah garis akhir bagi seorang sarjana. Justru setelah wisuda, tantangan sesungguhnya dimulai: bagaimana ilmu, keterampilan, dan pengalaman yang diperoleh di bangku kuliah dapat memberi manfaat bagi masyarakat.

Pesan itu disampaikan Gubernur Sulawesi Utara Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, SE, saat memberikan kuliah umum kepada para wisudawan dari sejumlah perguruan tinggi se-Bolaang Mongondow Raya (BMR), di Hotel Sutanraja, Kotamobagu, Jumat (04/09/2026).

Kegiatan yang digelar Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Bolaang Mongondow Raya (FKPT BMR) tersebut mengangkat tema “Peran Generasi Muda BMR dalam Mewujudkan Sulawesi Utara Maju, Sejahtera dan Berkelanjutan.”

Di hadapan para lulusan, Gubernur Yulius tidak hanya berbicara tentang capaian pembangunan Sulawesi Utara, tetapi juga tantangan yang masih membutuhkan keterlibatan generasi muda.

Salah satunya adalah persoalan ketenagakerjaan. Ia menyebut pertumbuhan ekonomi Sulut pada triwulan II 2026 mencapai 5,42 persen. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) juga berada di angka 76,32, lebih tinggi dari rata-rata nasional 75,90.

Angka kemiskinan Sulut tercatat 6,32 persen, lebih rendah dibandingkan nasional yang mencapai 8,47 persen.

Sementara Gini Ratio berada di angka 0,344, juga lebih baik dibandingkan rata-rata nasional 0,368.

Namun, capaian tersebut masih dibayangi tingkat pengangguran terbuka (TPT) yang berada di atas angka nasional.

“Pengangguran terbuka kita masih 5,85 persen, sementara nasional 4,85 persen. Ini menjadi tantangan yang harus kita jawab bersama,” katanya.

Karena itu, ia mendorong generasi muda tidak berhenti pada orientasi mencari pekerjaan. Para lulusan perguruan tinggi diharapkan mampu menciptakan peluang dan mengembangkan potensi yang ada.

“Generasi muda jangan hanya menunggu pekerjaan. Harus berani menciptakan peluang, berinovasi dan meningkatkan kompetensi,” ujarnya.

Sulut Punya Potensi Besar
Yulius kemudian mengajak para wisudawan melihat Sulawesi Utara sebagai daerah yang memiliki modal besar untuk berkembang.

Letak geografis Sulut yang berada di kawasan Samudera Pasifik dinilai memberikan peluang strategis.

Provinsi ini memiliki 382 pulau, termasuk 12 pulau terluar, serta berbatasan dengan Laut Sulawesi, Filipina dan Samudera Pasifik.

Potensi tersebut, menurut Gubernur, dapat menjadi bagian penting dalam mewujudkan Sulawesi Utara sebagai pintu gerbang Indonesia menuju kawasan Asia dan Pasifik yang mandiri, maju dan berkelanjutan.

Sejumlah program pembangunan pun terus diarahkan untuk memperkuat sumber daya manusia dan konektivitas daerah.

Di sektor pendidikan, pemerintah melakukan revitalisasi 50 sekolah serta menghadirkan SMA Taruna Nusantara di Langowan. Di bidang kesehatan, pemerintah mendorong penurunan stunting dan pemerataan tenaga medis hingga wilayah pelosok.

Peningkatan keterampilan masyarakat juga dilakukan melalui program upskilling di Balai Latihan Kerja (BLK).

Sementara di sektor infrastruktur, pemerintah membangun sembilan ruas jalan strategis dengan total panjang sekitar 30 kilometer.

Potensi pariwisata dan kebudayaan turut dikembangkan melalui revitalisasi sejumlah destinasi, termasuk Museum Provinsi, Bukit Kasih dan Sumaru Endo.

“Kita terus membuka ruang agar potensi daerah bisa berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Pemerintah juga memperluas konektivitas Sulawesi Utara dengan dunia internasional melalui penerbangan langsung Manado-Korea dan Manado-China.

Di sektor energi, pemerintah menargetkan ketersediaan listrik 24 jam bagi masyarakat di pulau-pulau terluar yang sebelumnya belum mendapatkan akses listrik secara optimal.

Wisudawan Didorong Jadi Bagian dari Solusi. Di hadapan para lulusan, Yulius mengingatkan bahwa pendidikan tinggi seharusnya menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.

Ia meminta ilmu yang diperoleh selama kuliah tidak berhenti sebagai pengetahuan pribadi, tetapi diterapkan untuk menjawab berbagai persoalan di lingkungan sekitar.

“Ilmu yang diperoleh di bangku kuliah harus diaplikasikan menjadi solusi nyata bagi masyarakat,” katanya.

Yulius juga mengingatkan bahwa proses belajar tidak berhenti setelah seseorang menerima ijazah.

Perubahan yang berlangsung cepat menuntut generasi muda untuk terus mengembangkan pengetahuan dan keterampilan.

“Wisuda bukan akhir dari proses belajar. Kita harus terus belajar sepanjang hayat, membangun mental yang tangguh dan tidak takut menghadapi kegagalan,” pesannya.

Selain kemampuan akademik dan profesional, ia menilai karakter juga menjadi bekal penting bagi para lulusan ketika memasuki dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat.

Etika, disiplin serta kepedulian terhadap sesama, menurutnya, harus berjalan bersama dengan kompetensi.

“Gelar bukanlah tujuan akhir, melainkan awal dari pengabdian,” ujarnya.

Gubernur Sulut juga mengingatkan para wisudawan untuk tidak melupakan peran keluarga, terutama orang tua, yang selama ini memberikan doa, dukungan dan pengorbanan hingga mereka menyelesaikan pendidikan.

“Mari bersama membangun daerah, menuju Sulawesi Utara maju, sejahtera dan berkelanjutan,” ajaknya.

Menutup kuliah umum, Gubernur menyampaikan pantun yang menjadi pesan optimisme bagi para lulusan perguruan tinggi di BMR: “Lahan sekunder disukai varietas,
Termasuk spesies tumbuhan rempah.
Lulusan PT BMR pasti berkualitas,
Semoga sukses dalam berkiprah.”

Kuliah umum FKPT BMR tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan pemerintah daerah dengan generasi muda.

Para wisudawan diharapkan tidak sekadar membawa pulang ijazah, tetapi juga semangat untuk menciptakan peluang, mengembangkan potensi daerah dan ikut mengambil bagian dalam pembangunan Sulawesi Utara. (AG’Q)