September 10, 2026
FB_IMG_1788954933636

MINAHASA, MANIMPANG.com — Hamparan persawahan Kelurahan Koya, Kecamatan Tondano Selatan, Kabupaten Minahasa, menjadi lokasi dimulainya langkah baru menuju pertanian yang lebih ramah lingkungan, Rabu (09/09/2026).

Di kawasan tersebut, Pemerintah Kabupaten Minahasa bersama Universitas Negeri Manado (Unima) mulai menerapkan teknologi intermittent irrigation atau sistem pengairan berselang.

Inovasi ini menjadi bagian dari program riset Ekosistem Hidup Berbasis Sains dan Teknologi (Bestari Saintek) yang diarahkan untuk mendukung produktivitas pertanian sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca, khususnya gas metana dari lahan persawahan.

Penerapan teknologi tersebut ditandai dengan pencanangan program serta pengambilan sampel gas metana di area persawahan Kelurahan Koya.

Program Bestari Saintek merupakan hasil kolaborasi Pemkab Minahasa dan Unima dengan dukungan pendanaan dari kementerian dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Program tersebut secara resmi dicanangkan Rektor Unima, Dr. Joseph Philip Kambey, S.E., MBA., Ak., selaku penanggung jawab kegiatan.

Dalam pelaksanaannya, Kabupaten Minahasa menjadi mitra utama riset sekaligus diproyeksikan sebagai salah satu daerah percontohan penerapan inovasi untuk mitigasi gas rumah kaca di sektor pertanian.

Bupati Minahasa, Dr. Robby Dondokambey, S.Si., MAP (RD) menyambut positif pelaksanaan program tersebut.

Menurut RD, sistem pengairan berselang tidak hanya berkaitan dengan pengelolaan air di lahan persawahan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari upaya menjaga lingkungan.

“Teknologi ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan produktivitas, tetapi juga memperhatikan upaya pengurangan emisi gas metana demi kelestarian lingkungan,” ujar Bupati Robby saat memberikan sambutan di hadapan kelompok tani dan para undangan.

Ia berharap penerapan inovasi berbasis sains dan teknologi tersebut nantinya memberikan manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh para petani.

“Harapannya, inovasi ini dapat memberikan manfaat bagi petani sekaligus menjadi langkah strategis dalam membangun pertanian Minahasa yang produktif dan berkelanjutan,” ujarnya.

Sementara itu, Rektor Unima Dr. Joseph Philip Kambey menyampaikan bahwa perguruan tinggi memiliki peran untuk memastikan hasil penelitian tidak berhenti di lingkungan akademik, tetapi dapat menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat.

Menurut Rektor, tantangan perubahan iklim membutuhkan pendekatan berbasis penelitian dan teknologi yang dapat diterapkan di lapangan.

Usai pelaksanaan program, Unima juga merencanakan audiensi dengan Menteri Pertanian untuk memaparkan hasil penelitian serta berbagai temuan yang diperoleh selama pelaksanaan riset di lapangan.

Selain agenda tersebut, sejumlah kegiatan nasional juga tengah dipersiapkan, di antaranya Rapat Kerja PIM dan Lomba Catur Nasional yang direncanakan turut dihadiri Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) dan Gubernur Sulawesi Utara.

Kegiatan pencanangan dan riset di Kelurahan Koya turut dihadiri Ketua Tim Riset Prof. Dr. Orbanus Naharia, M.Si., jajaran Pemerintah Kabupaten Minahasa, serta Kelompok Tani Tuma’ar.

Melalui penerapan pengairan berselang dan pemantauan emisi gas metana, program Bestari Saintek diharapkan dapat berkembang menjadi pilot project pertanian berkelanjutan.

Jika berhasil, model tersebut berpeluang diterapkan di daerah lain dengan karakteristik pertanian yang serupa.

Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari upaya mendorong transformasi pertanian di Minahasa agar semakin modern, efisien, hemat energi, dan mampu beradaptasi dengan tantangan perubahan iklim. (AG’Q)